Teknologi Pengobatan Kanker Dengan BNCT

0

Jakarta, Bacadulu.News – Aplikasi teknologi nuklir ternyata bukan hanya mampu memberikan energi seperti pembangkit listrik untuk proses industri saja. Nuklir ternyata mampu juga dikembangkan secara khusus di bidang kesehatan salah satunya therapy penyakit kanker.

Kanker adalah ‰ÛÏtumor ganas‰Û yang tumbuh akibat pembelahan sel yang tidak normal dan tidak terkontrol, proyeksi World LIFESTYLE Organization (WHO) pada tahun 2030 jumlah penderita kanker di Indonesia sangat tinggi dan pengobatannya hingga sampai saat ini belum terpenuhi secara kualitas dan kuantitas, namun penyakit ini telah menjadi monster menakutkan, menggeser posisi penyakit jantung, dan menduduki tingkat bahaya tertinggi di Indonesia. Sehingga para peneliti dan pakar di bidang penyakit ini berlomba mencari cara terbaik agar penyakit ini tidak tumbuh subur, baik dari segi pencegahan maupun tindakan.

Dari segi pencegahannya, telah banyak dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mencegah sekaligus menghindari terjangkitnya penyakit ini. Hasil identifikasi bahwa banyak makanan yang mengandung zat-zat pelindung yang bisa mengurangi kerusakan jaringan akibat radikal bebas atau berpotensi mengurangi pertumbuhan seperti antioksidan yang di dalamnya mengadung vitamin C dan E dari sayuran, fetoestrogen di produksi oleh tubuh berkaitan dengan protein dan serat, senyawa bioaktif yang terdapat dalam ekstract bawang putih, maupun makanan kaya karbohidrat dan protein. Sedangkan upaya tindakan telah banyak diciptakan berbagai obat pencegah kanker dan dan alat kesehatan lainnya.

BNCT (Boron Neutron Capture Cancer Therapy) adalah salah satu metode terapi yang berbasis target, dapat menjangkau sampai sel akar kanker lokal. Ada empat keunggulan terapi BNCT yaitu: (1) Boron untuk batas tertentu bukan merupakan unsur yang toxic , (2) Boron hanya terdeposit di lokasi sel kanker yang teraktivasi oleh neutron, (3) Partikel alfa yang dipancarkan oleh Boron yang teraktivasi mempunyai jangkauan hanya dalam orde beberapa micro meter sehingga perusakan jaringan kanker bersifat lokal sehingga jaringan sehat tetap aman dan (4) Boron yang teraktivasi mempunyai umur paro beberapa nano detik sehingga dalam sekejab aktivitasnya nol.

Secara teknis, keberhasilan aplikasi terapi BNCT ditentukan oleh ketersediaan senyawa Boron dan sumber neutron. Dari hasil penelitian yang dikembangkan oleh para pakar dari Konsorsium di bidang ini, telah terpilih senyawa berbasis analog kurkumin sebagai carier untuk membawa Boron ke sel kanker. Senyawa tersebut berupa mitokimia yang telah diketahui berpotensi sebagai senyawa antikanker terutama kanker payudara yang dapat mengenali target secara spesifik. Sedang sebagai sumber energi untuk mematikan penyakit kanker adalah neutron dari Accellerator Driven Compact Neutron Generator (CNG) yang sudah proven dan lebih fleksibel digunakan di rumah sakit.

Uji klinis terapi BNCT sudah dimulai sejak tahun 1953 di Amerika Serikat (Brookhaven Medical Reactor dan Massachusetts Institute of Technology Reactor) dan kemudian dihentikan pada tahun 1961 karena dianggap tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Hatanaka, seorang dokter bedah safar Jepang yang melakukan kegiatan magang pada Prof. Sweet di Harvard Medical School, Boston pada tahun 1964 -1967, mempelajari sebab kegagalan penanganan BNCT tersebut. Sekembalinya dari Amerika Serikat, Hatanaka bersama rekan-rekannya dari berbagai disiplin ilmu mengembangkan teknik BNCT dan berbagai aspek penting yang menunjangnya. Pada tahun 1968, uji klinik terapi BNCT pada pasien tumor otak mulai dilakukan dengan menggunakan reaktor HitachiåÊ (Hitachi Training Reactor, HTR). Hasil yang diperoleh dari uji klinik tersebut dianggap cukup baik sehingga terapi BNCT untuk penderita tumor otak berlanjut. Di Jepang sendiri beberapa reaktor lain kemudian disiapkan untuk penanganan terapi BNCT, dengan berbagai penyempurnaan yang dianggap perlu. Setelah reaktor HTR dianggap terlalu kecil, terapi BNCT kemudian dilakukan di reaktor Musashi (Musashi Institute of Technology Reactor/MuITR) dan kemudian dilakukan pula di reaktor JRR-2 JAERI, maupun di reaktor Universitas Kyoto (Kyoto University Reactor/KUR). Terapi BNCT yang semula hanya digunakan untuk pasien tumor otak ganas (malignant brain tumors, glioblastoma multiforme) kemudian juga digunakan untuk terapi kanker kulit (melanoma).

Penelitian BNCT di Indonesia sudah mulai dilakukan oleh dua konsorsium BATAN dan UGM. Konsorsium ini terbagi menjadi dua kelompok besar. BATAN bertugas mengembangkan penembak neutron menggunakan cyclotron, sedangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) bertugas dalam pengembangan obat kanker boron carrying pharmaceuticals. Kini, UGM telah berhasil mengembangkan boron carrying pharmaceuticals dari senyawa analog kurkumin yang potensial. Namun, dalam riset BNCT di Indonesia ini mengalami beberapa kendala, dikarenakan keterbatasan fasilitas dan kurangnya pengalaman dalam pengembangan obat kanker BNCT. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya percepatan sehingga riset obat kanker BNCT di Indonesia bisa lebih berkembang.

Kedaulatan, kemandirian dan kepribadian dalam budaya perlu terus ditingkatkan. Salah satu bukti menuju Kemandirian dibidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. (red/RA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here