Review Film LIMA: Semangat Pancasila di Bumi Indonesia

0

Film LIMA hadir ditengah tengah kehidupan kita yang semakin marak akan intoleransi, banyak penelitian tentang hal ini misalnya Survei Wahid Foundation menunjukan Indonesia masih rawan perialku intoleran dan radikal. Sebagai warga negara tentu bukanlah perpecahan yang kita inginkan tetapi persatuan Indonesia yang akan terus kita tegakkan agar Indonesia tetap ada sampai kapanpun. Film LIMA digawangi oleh sutradara perempuan muda berbakat Lola Amaria, Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanti Dewanto. Setiap sila disutradarai oleh 1 sutradara sehingga film ini lengkap sesuai dengan 5 sila didalam pancasila. Ide film ini mendapat banyak simpati dan di produseri oleh teman teman Fornas Bhinneka Tunggal Ika dan berbagai lembaga dan komunitas lainnya sehingga lahirnya film LIMA ini.

Dari cerita sederhana dan hadir diurat nadi tubuh kita. Kisah kisah difilm LIMA lekat dihati. Gambaran kehidupan setiap hari ada disekeliling kita bahkan di didalam rumah kita. Tentang ke Tuhanan yang Esa, ber Tuhan lah kita tanpa menghakimi orang lain, menjaga hidup berdampingan dan toleransi dengan berbagai pilihan keyakinan adalah keharusan. Kemanusiaan yang adil dan beradab, adil juga seperti kutipan kalimat “Do not judge a person from what he is doing, because you also have to know the reason why he is did it:Jangan menghakimi seseorang dari apa yang dia lakukan, karena anda juga harus tahu alasan kenapa dia melakukannya”.

Senang hati hari ini mewawancarai anak SMP setelah menonton film LIMA bisa terkesan dengan adegan saat penguburan ibu Maryam oleh anak anaknya “inilah Indonesia dengan sila 1 dan 3 yang membuat Indonesia bisa akan terus penuh damai dimasa datang”. Seorang asisten rumah tangga “Bi Ijah” layaknya bagian keluarga kecil mereka, nilai nilai yang banyak kita temui didalam keluarga keluarga di Indonesia. Keadilan didalam hukum juga menjadi contoh kongkrit dan tontonan kita dalam berita berita sehari hari, hukum itu selalu tajam kebawah dan tidak keatas. Kisah Agus dan Noni tidak akan bisa berkumpul bersama Bi Ijah bila hakim tak punya nurani. Peran Adi sebagai remaja yang sangat mencintai Ibu dengan sangat dan keluarganya. Perasaannyapun halus dan welas asih penuh dengan nilai nilai kemanusiaan yang selalu ada dikeluarganya. Dikeluarga Ibu Maryam yang memiliki anak Fara, Aryo dan Adi mempunyai anggota keluarga luar biasa namanya Bi Inah, disini juga yg bikin meleleh airmata.

Semua pemerannya tokohnya cukup sentral dan mengajarkan kita semua bahwa menolong dan hidup dengan cinta kasih itu juga mengandung resiko dan butuh keberanian seperti cuplikan ini saat Adi sudah berusaha menolong dengan hati dan perbuatannya tak berdaya, seorang maling buku tetap dihajar bahkan dibakar massa. Pokoknya sedih, kenapa ini terjadi dibumi Indonesia yang penuh falsafah Pancasila?

Semoga film ini dapat layak ditonton usia 13 keatas, di dalam tubuh dan pikiran generasi milenial biarkan kecintaan dan harapannya akan Indonesia yang berbhinneka Tunggal Ika terus ada dan tumbuh.

Oleh: Ratri Wahyu Mulyani #Penonton film LIMA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here