Muhamad Vachry Widhanto, Pengusaha Properti Muda yang Cemerlang

Muhamad Vachry Widhanto

Tim Bacadulu.news kali ini, berbincang dengan sosok pengusaha muda yang merupakan salah satu founder dari Arvee Group. Arvee Group merupakan salah satu developer bidang industri properti yang kian melambung namanya.

Pengusaha muda yang memiliki nama panjang Muhamad Vachry Widhanto, sempat mengenyam pendidikan S1 & S2 di California State University, Long Beach jurusan International Business & General MBA.

Sosok yang akrab dipanggil Vachry ini, memiliki ketertarikan dengan mobil semenjak berumur 3 tahun.  Semenjak Mei 2017, Vachry  juga menjabat sebagai sekertaris di salah satu club mobil Speedloverz. Beserta dengan clubnya Vachry mendapat award “best car club” di Proper Car Contest by Intersport, November 2017.

Yuk, mari simak perbincangan lebih lanjut Tim Bacadulu.news dengan Vachry!

Ceritakan kapan awal mula menjadi pengusaha?

Dari tahun 2013, waktu itu usia masih 22, baru lulus MBA. Saya coba apply kerja, tapi nggak ada yang cocok, jadi  saya memutuskan untuk usaha sendiri. Dulu sudah bisnis macam-macam, mulai dari pulsa dan listrik (sebelum ada listrik pintar), distribusi minyak High Speed Diesel, sampai akhirnya sekarang di properti (Arvee Group) dan ada sampingan usaha di bidang olahraga (mob jakarta).”

Adakah ada bisnis di bidang tertentu yang ingin dicoba namun belum ada kesempatan sampai saat ini? Kenapa?

Apa aja yang penting jadi duit! (sambil tertawa). Kelihatannya dunia kuliner & otomotif menarik, tapi saya merasa sekarang bukan era konglomerasi, tapi fokus ke satu industri.

Menurut Vachry faktor-faktor apa yang menentukan kesuksesan seseorang dalam berbisnis?

Integritas, disiplin, dan kemampuan komunikasi. Kalo mengenai integritas, menurut saya kejujuran itu kan mata uang yang berlaku dimana saja. Apa lagi sih aset seorang pengusaha selain dari kata-katanya yang bisa dipegang? Disiplin, ya karena kita nggak ada bos, jadi harus bisa bos diri sendiri. Komunikasi, karena pengusaha ibarat “tukang jahit”, menggabungkan beberapa pihak untuk satu ide. Jadi harus bisa menyamakan visi orang lain sehingga jadi sejalan dengan visi kita. Sehingga Komunikasi penting untuk menyatukan visi tersebut.

Faktor apa yang selama ini menjadi hambatan dalam berbisnis dan bagaimana cara untuk mendapatkan jalan keluarnya?

Ketika ada modal, susah cari proyek. Ketika dapet proyek, modalnya kurang. Sepertinya hidup selalu seperti itu siklusnya, jadi mitigasinya perencanaan yang lebih jauh saja. Meskipun hanya bisa mengurangi hambatan – sampai hari ini pun masih terjadi. Sekarang juga lebih fleksibel dalam urusan pembiayaan, exploring perbankan konvensional, syariah, dan terbuka juga terhadap fintech-fintech jaman now.

Siapa yang menginspirasi atau mensupport  dalam bisnis  sampai saat ini?

Yang menginspirasi sebetulnya ya Nabi Muhammad. Mungkin terdengar cliche, tapi beliau dikenal sebagai pengusaha jujur dari usia yang masih belia. Yang membantu dan support adalah semua stakeholder ya. Doa orang tua, keluarga dan saudara, teman-teman yang support hingga menjadi partner dan investor, banker yang bisa memberikan saya kesempatan sampai hari ini, termasuk juga teman-teman lain yang secara tidak langsung membantu saya lepas stress – baik itu teman-teman club atau teman lama dari semasa SD.

Apakah ada tip para pembaca bagaimana cara memulai/ mengawali bisnis?

Waduh, saya selalu bingung kalau ditanya tip. Tapi saya selalu ingat kata-kata ayah saya, ‘kesuksesan adalah ketika kesempatan bertemu kemampuan.’ Jadi saya pribadi selalu fokus memperbanyak kesempatan dengan menjalin silaturahmi seluas-luasnya, dan meningkatkan kemampuan saya dengan disiplin. Mungkin ini general sekali ya, tapi saya rasa memang dunia usaha itu harus sangat luwes dan fleksibel.

Pertanyaan terakhir, apa sih serunya jadi pengusaha? Boleh diceritakan?

Serunya? Banyak dong.

1. Gak ada bos, jadi hidup kita diatur sama diri sendiri. Bisa atur waktu sendiri.

2. Banyak kejadian-kejadian menarik yang selalu dinamis, hidup kita nggak itu-itu aja setiap hari.

3. Karena kita berbisnis dengan kelas menengah-bawah, jadi terus bersyukur dan nggak membandingkan dengan yang lebih di atas. Kalau kantong cekak, selalu refleksi ke pembeli-pembeli kita yang bahkan AC aja suatu kemewahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here