Mierza Darsya Putra: Karena Beta Cinta, Karena Katong Basudara!

0

Tim Bacadulu kali ini berkesempatan berbincang dengan Mierza Darsya Putra. Sosoknya riang, bersahabat dan tentu saja profesional di bidangnya. Mierza adalah seorang Konsultan Perpajakan dan Manajemen, dan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti.

Selain sebagai pengusaha mula, ternyata Mierza memiliki perhatian besar terhadap dunia Pendidikan. Pada tanggal 11-14 Oktober 2017 lalu, dia menjadi relawan pada acara Ruang Berbagi Ilmu (RuBi) yang diadakan oleh Yayasan Indonesia Mengajar. RuBI adalah wahana berbentuk Training for Trainers di tingkat kabupaten yang mengundang para profesional dari berbagai latar belakang pendidikan dan atau pekerjaan untuk menjadi Relawan  Narasumber dan Relawan Dokumentator sukarela dalam pelatihan bagi para penggerak pendidikan di daerah. Sukarela berarti para relawan harus menyediakan sendiri akomodasi, transportasi dan segala keperluan yang dibutuhkan untuk kegiatan ini. Yuk, simak perbincangan tim Bacadulu dengan Mierza berikut!

Bagaimana awal mula Mierza terlibat sebagai relawan RuBi?

Ketika diumumkan bahwa nama saya termasuk ke dalam daftar relawan yang dipilih untuk menuju ke Kota Tiakur, saya langsung mencari tahu, seperti apa Kota Tiakur, apa yang ada di sana, tempat menarik apa yang bisa dikunjungi. Ternyata hasilnya pencarian di internet sangat minim informasi tentang kota ini. Saya mendapat tambahan informasi dari Panitia Jakarta bahwa untuk menuju ke sana saya harus terbang dari Jakarta ke Ambon, baru setelah itu mencari penerbangan perintis Ambon ke Kota Tiakur, di mana penerbangan ini tidak ada setiap hari. Atau dari Ambon atau Kupang bisa lanjut dengan kapal laut selama 3 hari 2 Malam, alamaaaaak… betapa luas negeriku ya…

Apa yang membuat Mierza bertekad untuk tetap pergi ke Tiakur?

Awalnya saya sempat berpikir untuk mundur, karena tantangan untuk menuju ke sana sangat besar, tetapi setelah saya pikir lagi, justru karena kondisi yang seperti ini, tidak banyak orang yang mau datang ke sana, menjadi penguat saya bahwa saya harus datang ke sana bertemu dengan bapak ibu Guru yang hebat di perbatasan Indonesia dengan Australia dan Timor Leste. Jika melihat ke Peta Indonesia, Kota Tiakur di Pulau Moa Kabupaten Maluku Barat Daya terletak di dekat Timor Leste dan beberapa pulau dekat sana juga sudah dekat ke arah Darwin Australia. Bismillah, saya memantabkan diri bergabung ke dalam acara ini.

Seperti apa kegiatan selama di Tiakur?

Syukur Alhamdulillah, pada acara ini kami dibantu oleh panitia lokal yaitu para relawan Indonesia Mengajar, yaitu adik-adik dari Yayasan Indonesia Mengajar, mereka lah yang menjadi motivator kami sebenarnya selama di sana. Bayangkan saja, mereka rela mengabdi selama setahun di daerah terpencil, karena cinta dengan Indonesia. Background pendidikan mereka yang lulusan UI, UGM, ITB dan lainnya sebenarnya membuat mereka mudah mencari kerja di ibukota dengan dompet tebal. Tetapi mereka lebih menyukai beternak babi di rumah orang tua angkat mereka, pengalaman digigit anjing, sinyal hilang, naik kapal dua hari satu malam, dan kesulitan lainnya hanya untuk melihat senyum bahagia dari anak Indonesia. Dari mereka juga kami relawan RuBi mengetahui bahwa memang ada ketimpangan pendidikan yang sangat terasa bagi penduduk di daerah perbatasan. Bahwa perlu ada urun rembug dari kita yang telah menikmati segala fasilitas di kota besar, untuk sekedar berbagi pengalaman dan rasa sayang kita sesama orang Indonesia.

Acara yang dinanti pun tiba. Kami tim relawan dari Jakarta dan Solo berkesempatan berbagi kepada sekitar 210 orang guru SD dan SMP di Kota Tiakur Pulau Moa, kabupaten Maluku Barat Daya. Acara ini dibuka oleh bapak Wakil Bupati MBD, dihadiri oleh Ketua DPRD kab. MBD, Wakapolres dan jajaran SKPD di kabupaten MBD.

Hal apa yang disampaikan pada acara tersebut?

Materi yang disampaikan ada 3 hal, pertama adalah Motivasi Guru, bagaimana sharing para guru di daerah 3T, gaji yang suka telat, informasi yang sulit didapatkan karena kendala telekomunikasi, sampai transportasi yang juga masih sulit, untuk sampai ke tempat kami saja para guru harus naik kapal sehari semalam dari pulau pulau sekitar.

Materi kedua adalah positive discipline , bagaimana kami berusaha meyakinkan guru, bahwa ada cara lain untuk mendisiplinkan anak didik, bukan dengan rotan. Karena di sana masih beranggapan bahwa diujung rotan ada emas.

Ketiga adalah Metode belajar kreatif, kami mengajak guru untuk mendidik murid dengan cara belajar yang menyenangkan, kreatif di tengah keterbatasan sumber daya.

Pesan moral apa yang ingin disampaikan?

Syukurlah para guru sangat menikmati acara yang diselenggarakan, Inilah sosok Bapak dan Ibu Guru yang Hebat, yang cinta anak didiknya seperti anak sendiri, suatu ketika sewaktu kami sharing tentang positive discipline, kami dibuat kaget karena ada Bapak Guru yang bilang “di ujung rotan ada emas” , atau ibu Guru yang bilang : “Bapak Ibu dari Jawa, orangnya halus halus… Katong di Maluku orangnya keras keras…. Saya katakan: “Seng.. Beta seng orang Jawa, beta punya Bapa dan Ibu dari Sumatera, orangnya keras juga. Tetapi katong seng pakai rotan..” yang akhirnya proses diskusi tetap berlanjut aktif dan damai selama kami di sana, sampai pada saat kami pamit pulang, seluruh guru secara mendadak mengelilingi kami, membuat lingkaran dan semua bernyanyi.. Yang kira-kira artinya kita semua bersaudara…

Saya sangat terharu mendengar kata kata ini, bahwa tidak ada lagi perbedaan antara Jakarta, Jawa atau Maluku, Islam atau Kristen, karena Katong Semua Basudara!

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here