Mengabdi Selama 38 Tahun Sebagai Seorang Guru

0

JAKARTA, Bacadulu.News – Tidak ada yang tidak sepakat bahwa guru mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang Pendidikan. Guru sendiri diartikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Karena perannya itulah, guru adalah sosok yang dihormati dalam masyarakat. åÊNamun ironis rasanya ketika membaca berita seorang guru dilawan murid, atau kriminalisasi yang dilakukan terhadap guru hanya karena persoalan sepele seperti mencukur rambut atau sekedar menegur demi kebaikan murid.

Untuk menghargai profesi seorang guru, kali ini tim Bacadulu.News berkesempatan untuk berbincang dengan pensiunan seorang guru yang sudah mengabdi selama 38 tahun kepada bangsa ini. Entah sudah berapa ribu murid yang pernah dididiknya.åÊ

Namanya adalah Ibu Hj. Jumiyati, S.Pd. Nenek dari dua orang cucu ini rupanya baru saja memasuki usia pensiun bulan Agustus ini. Dengan menjadi guru di salah satu sekolah negeri, Ibu Hj. Jumiyati telah berhasil mengantarkan kedua anak-nya untuk menjadi seorang sarjana. Bahkan salah satu anaknya telah meyelesaikan sekolah sampai ke jenjang S2.

Berikut adalah wawancara tim Bacadulu.News dengan sosok pahlawan tanpa tanda jasa ini:

Bagaimana awal mula Ibu ingin menjadi guru?

Pada awalnya saya tidak ingin menjadi guru, namun karena waktu itu orang tua menginginkan anaknya ada yang menjadi seorang guru, jadi saya disekolahkan ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Negeri Bogem di Yogyakarta.åÊ Setelah berkecimpung dalam dunia mengajar lama-kelamaan saya menikmati peran saya sebagai seorang guru dan mencintai profesi ini.

Boleh tolong ceritakan masa sekolah Ibu?

Saya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Sebagai anak keempat dari lima orang bersaudara, pekerjaan saya sehari-hari ikut membantu Almarhum Ibunda berdagang, selain sekolah. Waktu itu untuk bisa bersekolah, saya harus menempuh jarak kurang lebih 10 kilo meter dengan sepeda ontel tua yang dibelikan oleh almarhum Bapak. Pernah suatu saat ban sepeda saya kempes di pinggir jalan, walhasil saya harus menuntun sepeda sampai rumah. Jadi memang pengorbanan dan tantangan untuk bisa melanjutkan sekolah saat itu cukup berat.

Sebelum pensiun, Ibu ditugaskan di mana?

Selama 38 tahun saya ditugaskan di SD Negeri Pasar Minggu 03 Pagi, sekarang namanya menjadi SD Negeri Jagakarsa 14 Pagi.

Apa suka dan duka dalam menjadi seorang guru?

Sukanya, saya selalu dikelilingi oleh anak-anak yang lucu-lucu, melihat mereka tumbuh dan menjadi pintar. Kebanggaan tersendiri bagi saya ketika melihat anak didik saya, apapun profesi yang mereka jalankan, bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan masyarat mereka. Kalau bicara dukanya, ya ketika saya ditempatkan di sekolah yang jauh dari rumah dan waktu itu harus berjalan kaki di jalan setapak yang becek sejauh 2 kilo lebih. Apalagi waktu itu apresiasi terhadap guru dari sisi pendapatan bisa dibilang masih menyedihkan sekali berbeda dengan keadaan sekarang yang sudah jauh lebih baik.

Pengalaman apa selama mengabdi yang tidak bisa Ibu lupakan?

Pengalaman yang membuat saya terharu adalah ketika ada mantan anak didik yang sudah puluhan tahun tidak bertemu, bahkan saya tidak ingat namanya, tiba-tiba datang ke rumah dengan membawa serta keluarganya. Dia mengatakan bahwa dia sengaja mencari saya setelah sukses karena ingin berterima kasih sudah mendidiknya ketika SD dulu. Perasaan saya luar biasa bahagia kedatangan mantan anak didik saya tersebut. Saya merasa apa yang saya lakukan diapresiasi oleh anak didik saya.

Apakah Ibu pernah jenuh menjadi seorang guru?

Jenuh itu hal yang wajar, tinggal bagaimana kita merespon kejenuhan tersebut. Kalau sedang jenuh, biasanya saya mencari kegiatan lain yang bisa menghilangkan kejenuhan seperti ikut aktif mendampingi murid di kegiatan ekstrakulikuler seperti senam, pramuka, qasidah-an dan sebagainya.

Apa tantangan menjadi guru pada masa lalu dan masa sekarang?

Ketika kita bekerja dengan ikhlas dan dari hati saya tidak merasa ada tantangan berarti dalam menjalankan profesi sebagai seorang guru. Di masa sekarang, guru dituntut untuk mengikuti perkembangan jaman, menguasai teknologi seperti menggunakan komputer dalam kegiatan di sekolah. Karena saya juga senang belajar, meskipun cukup gaptek, saya menikmati proses pembelajaran tersebut.

Bagaimana rasanya sebagai pensiunan setelah 38 tahun mengabdi?

Rasanya bahagia dan lega. Alhamdulillah saat ini saya sudah dikaruniai dua orang cucu bernama Raka dan Shaka. Saya bahagia karena bisa menemani dan melihat cucu-cucu saya bertumbuh. Selain itu, saya bisa mengisi waktu saya dengan mengikuti senam, pengajian dan sebagainya.

Terakhir, apa pesan Ibu terhadap generasi muda yang bercita-cita ingin menjadi guru?

Pesan saya apapun profesi yang dipilih, seperti guru atau yang lain, perbanyaklah menimba ilmu, pilihlah pekerjaan sesuai keinginan dan lakukanlah dengan ikhlas, sabar dan senang. Insha Allah kesuksesan baik dalam karir dan keluarga akan datang.

åÊ

Guru laksana pelita, penerang dalam gulita. Sudah selayaknya kita senantiasa menghargai dan berterimakasih atas jasa – jasa guru kita. (NS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here