Memaknai Historis Perjuangan Lomba 17-an

0

Jakarta, Bacadulu.News – Meskipun usia bangsa Indonesia semakin bertambah, terutama di usia ke-72 tahun ini, bangsa Indonesia masih harus banyak berjuang keras. Untuk itu, seharusnya generasi muda tidak boleh hanya berdiam diri, apalagi melihat kondisi di Indonesia yang semakin memprihatinkan. Untuk itu, kita sebagai warga Negara Indonesia, dalam peringatan hari kemerdekaan RI ke-72 ini sudah saatnya ikut berperan dalam segala ruang, termasuk politik, keamanan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan, demi memperbaiki kondisi Negara Indonesia tercinta.

Sejarawan dan budayawan JJ Rizal, mengatakan bahwa tradisi lomba yang kerap menghiasi perayaan HUT Kemerdekaan RI itu muncul pada tahun 1950-an. Masyarakat kala itu begitu antusias ingin memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan RI yang berhasil diperjuangkan dengan cara yang menyenangkan. Bahkan Presiden pertama pada saat itu, Soekarno merupakan salah satu orang yang paling bersemangat dengan lomba 17 Agustus ini. Yah, pesta rakyat ini memang sangat menyenangkan dan membuat peserta lomba dan penonton terhibur dibuatnya.

Makan kerupuk

Perlombaan ini kerap hadir di setiap perayaan HUT RI, setiap peserta lomba baik anak-anak hingga orang dewasa begitu bahagia memakan kerupuk yang digantung dengan seutas tali. Pemenangnya adalah siapa yang paling cepat memakan habis kerupuknya.

Simbol keprihatinan rakyat Indonesia pada zaman penjajahan Belanda ditunjukkan dengan memakan kerupuk sebagai simbol sulitnya mendapatkan pangan. Dengan simbol rasa semangat itu, masyarakat meghadirkan kembali dalam perlombaan ini sebagai pengingat mereka akan kondisi yang terjadi di masa penjajahan.

Balap Bakiak

Bakiak adalah sejenis papan selebar sendal dan diberi penahan yang tidak menyakiti kulit. Jumlah pemain untuk menggerakan 1 bakiak pun beraneka macam sekitar 3-5 orang. Kerja sama, keseimbangan, kesesuaian irama antar pemainnya menjadi kunci kemenangan hingga menyentuh garis akhir.

Permainan ini lebih menekankan perlunya kerja sama untuk membangun bangsa dari semua ras, suku, golongan, agama. Jikaa Bangsa Indonesia bekerja bersama satu dengan lainya, maka tujuan juga akan dengan mudah dicapai dengan cepat.

Panjat Pinang

Panjat pinang berasal dari zaman penjajahan Belanda yang sering digelar acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Sebuah pohon pinang yang tinggi dan batangnya dilumuri oleh pelumas disiapkan oleh panitia perlombaan. Di bagian atas pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon yang biasanya pohon pinang.

Panjat Pinang disebutkan perlombaan ini menjadi objek bahan tertawaan penjajah Belanda. Pesertanya orang-orang pribumi yang memperebutkan ‘barang mewah’ waktu itu, biasanya bahan makanan seperti keju, gula, pakaian kemeja. Ketika orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa. Tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu.Bisa dibayangkan bagaimana kondisi rakyat Indonesia pada masa penjajahan. Sementara kebanyakan rakyat Indonesia bersusah payah untuk bisa bertahan hidup, tetapi para Penjajah Belanda justru hidup dalam kesenangan.

Balap Karung

Satu lagi perlombaan yang masih populer karena menggunakan daya juang, ketangkasan dan efisiensi tenaga, yakni balap karung. Pada perlombaan ini aturan mainnya adalah peserta memasukkan bagian bawah badannya ke dalam karung kemudian berlomba sampai ke garis akhir.

Sedangkan makna balap karung itu sendiri adalah mengingatkan rakyat Indonesia saat masa-masa sulit dijajah Jepang. Saat Indonesia dijajah Jepang, mayoritas rakyat ketika itu pakaiannya adalah karung goni.

Tarik Tambang

Pertandingan tarik tambang melibatkan dua regu, dengan 5 atau lebih peserta. Dua regu bertanding dari dua sisi berlawanan dan semua peserta memegang erat sebuah tali tambang. Di tengah-tengah terdapat pembatas berupa garis. Masing-masing regu berupaya menarik tali tambang sekuat mungkin agar regu yang berlawanan melewati garis pembatas. Regu yang tertarik melewati garis pembatas dinyatakan kalah.

Selain itu, tarik tambang mengajarkan adanya kerja keras dan taktik supaya bisa menumbangkan lawan. Karena itu lomba tarik tambang memiliki makna gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas masyarakat Indonesia.

Ternyata lomba kemerdekaan di Indonesia mengandung makna yang begitu dalam, tentunya dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan agar kebersamaan semangat persatuan dan kesatuan akan selalu terjaga demi utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, merdeka! (red/RA)

åÊ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here