Kontroversi Vaksin MR, Pakar Vaksin Angkat Bicara

0

Imunisasi MR (measles dan rubella) sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit measles (campak) dan rubella (campak Jerman). Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan melaksanakan program Kampanye Imunisasi Measles Rubella sejak setahun lalu (2017).

Belakangan, kontroversi penggunaan vaksin MR muncul pasca Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menetapkan vaksin Measles Rubella (MR) mengandung babi dalam proses produksinya.

Kendati demikian, MUI juga menyampaikan, vaksin MR boleh digunakan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan memperbolehkan vaksin Measless Rubella (MR) meski vaksin produksi Serum Institute of India tersebut.

Menanggapi anomali tersebut, dr. Kristoforus Hendra Djaya SpPD, yang merupakan pakar vaksin sekaligus CEO dari In Harmony Vaccination memberi penjelasan.

“Sebenarnya bukanlah pada kapasitas saya sebagai dokter untuk menjawab isu-isu mengenai keyakinan agama tertentu dan memperdebatkan ajaran agama. Namun saya akan membantu memberikan fakta-faktanya saja untuk memberikan pengetahuan dalam pandangan dua sisi, baik yang pro maupun kontra,”

“Separuh awal dari abad 20, sebagian besar vaksin diproduksi menggunakan media binatang, entah dengan menumbuhkan bakteri/virus di tubuh binatang hidup atau menggunakan sel-sel binatang.”

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, sejatinya, binatang telah digunakan dalam produksi vaksin manusia sejak masa-masa awal pembuatan vaksin. Dalam pembuatannya, beberapa vaksin yang dihasilkan tidaklah stabil, sehingga tidak dapat disimpan untuk digunakan dalam jangka panjang. Hal tersebut berarti, vaksin tersebut tidak praktis untuk didistribusikan ke seluruh dunia. Oleh karena itu, diperlukan suatu zat untuk menstabilkan formulasi vaksin tersebut.

Untuk menstabilkan berbagai obat-obatan, bukan hanya vaksin, namun juga berbagai jenis kapsul, digunakanlah gelatin yang merupakan zat stabilizer. “Gelatin, kata Kristoforus, merupakan suatu zat yang dibuat dari kolagen binatang seperti ayam, sapi, babi, atau ikan. Kolagen ditemukan dalam tendon, ligamen, tulang, dan kartilago. Gelatin dibuat dari kolagen yang terdapat dalam babi,” kata Kristoforus di Jakarta, Sabtu (25/8/18) kemarin.

Kendati demikian, Gelatin yang digunakan dalam vaksin telah melalui banyak proses pemurnian dan penghancuran hingga menjadi molekul-molekul yang sangat kecil dan dikenal dengan nama peptide.

Jika ingin mengganti salah satu komponen dalam vaksin tersebut, lanjut dia, berarti harus meneliti kembali segalanya dari awal lagi, membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk mengujinya kembali dan memastikan keamanan dan efektivitasnya tidak terpengaruh oleh perubahannya, itu pun dengan risiko bahwa hasil yang didapatkan belum tentu sebanding atau bahkan gagal.

Inilah sebabnya, mengapa penggantian stabilizer seperti yang diharapkan banyak orang, belum tentu bisa dilakukan,” tambah dr. Kristo.

Meski demikian, kata Kristoforus, mengingat penggunaan komponen binatang hidup bisa saja terinfeksi virus atau bakteri yang dapat mengkontaminasi vaksin. “Oleh karena itu, teknik produksi virus vaksin dalam sel manusia mulai dikembangkan dan menyebabkan perkembangan dunia vaksinasi yang signifikan,” tambahnya.

Bukan tanpa masalah, penggunaan sel manusia yang didapat dari janin yang diterminasi itu. Persoalan etika menjadi masalah tersendiri. Banyak ahli menyarankan produsen untuk meneliti kembali dan memproduksi vaksin tanpa menggunakan medium sel manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here