Kisah Rustono Menduniakan Tempe

0
Foto: gudnyus.com

Di Indonesia, siapa yang tak kenal tempe? Makanan yang berasal dari kedelai ini memiliki citarasa legit yang disukai banyak kalangan. Varian olahannya pun beragam, mulai dari tempe mendoan hingga orek tempe, makanan satu ini selalu punya penggemar. Tapi, bagaimana jika tempe di bawa ke luar negeri? Ternyata susahnya bukan kepalang untuk membuat tempe terkenal di mancanegara. Namun, sang raja tempe, Rustono, membuktikan bahwa dia bisa menjadi mendirikan pabrik tempe di Jepang dan membuat tempe mendunia.

Kisah Rustono berawal ketika ia masih muda. Sebagai seorang bocah yang lahir di desa kecil di Grobogan, lengkapnya Desa Kramat Kecamatan Penawangan pada tahun 1968, tak ada bayangan bahwa dirinya akan ke luar negeri. Ia, seperti mayoritas anak-anak di desa itu, hanya mengetahui sawah sebagai sumber penghidupan. Ia hanya berharap, suatu saat ia bisa menaiki pesawat, seperti yang biasa lalu lalang di atas sawah garapan ayahnya.

Sewaktu study tour di Borobudur, ia bertemu sejumlah orang asing, dan merasa kaget karena mereka ternyata sangat ramah. Kesan positif tersebut membuatnya memilih jurusan perhotelan agar ia bisa berhubungan dengan orang asing. Seusai lulus, ia bekerja di sebuah hotel di Jakarta, dan kemudian bertemu dengan seorang tamu Jepang yang kemudian menjadi istrinya kini. Cintanya kepada sang perempuan membuat Rustono berani mengambil keputusan nekad, yaitu tinggal di Jepang, yang merupakan syarat yang diajukan sang wanita jika Rustono ingin mempersuntingnya.

Tahun 1997, ia pergi ke Jepang dan bertekad untuk membuka usaha sendiri. Ia tidak ingin terjebak dengan ritme kerja orang Jepang yang terlalu ketat. Namun, ia berjanji, ia akan bekerja jika selama 6 bulan usahanya tak mendapatkan untung. Setiap hari sejak pindah ke Jepang, ia berusaha mencari inspirasi usaha, hingga akhirnya ia memilih tempe untuk dijual. Selama empat bulan mencoba membuat tempe, tak satu pun tempenya berhasil dibuat. Tempe baru berhasil dibuat setelah ia menggunakan air gunung dari sebuah kuil. Namun, percobaan itu ia akhiri karena ia tak tahu tingkat keamanan air gunung itu.
Ia pun memutuskan untuk pulang ke Indonesia, kemudian belajar membuat tempe dari produsen-produsen Indonesia. Tak tanggung-tanggung, ada 60 produsen yang ia kunjungi. Bekal pengetahuan itu ia bawa ke Jepang. Tak ayal, ketika kembali ke Jepang, ia pun sukses membuat tempe yang lezat. Ia menjual 20 buah papan tempe perdananya ke orang-orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Namun, semakin hari teman-teman pembelinya semakin berkurang. Ia pun berusaha menawarkan ke tempat-tempat makan di Jepang. Dari 30 tempat makan yang dikunjungi, tak satu pun bersedia membeli tempe buatannya.
Tak hanya itu, kondisi cuaca juga tak mendukung. Saat musim dingin datang, tempe yang ia buat gagal. Ternyata, tempe hanya dapat terbentuk pada suhu 31 derajat celcius. Ia frustasi. Namun, sang istri terus menyemangati. Ia kembali mengingatkan Rustono akan mimpi besarnya, bahwa ia akan membangun pabrik-pabrik tempe di kota-kota Jepang. Di tengah permasalahan itu, ia mempergunakan selimut elektrik untuk mempertahankan panas yang dibutuhkan untuk pembuatan tempe.
Meski masalah produksi tempe teratasi, menjual tempe adalah hal yang masih sulit dilakukan. Pemasukan sedikit, tapi pengeluaran terus bertambah. Apalagi, istrinya baru melahirkan anak pertamanya. Dalam kondisi demikian, ia tak menyerah. Ia melakukan penghematan apa pun, bahkan pabriknya sendiri ia perlebar dengan gelondongan kayu murah yang ia bawa sendiri. Kala itu, musim salju tiba. Beberapa kali ia diperingatkan untuk tidak beraktivitas pada saat musim salju, namun Rustono kekeuh ingin memperluas pabriknya. Tak disangka, ada seorang wartawan yang melihatnya dan mewawancarai lelaki itu. Dari sanalah Rustono menceritakan mimpinya untuk menjadi pengusaha tempe.
Tak disangka, kisahnya itu membuat banyak orang tertarik, termasuk rumah makan yang pernah menolak tempenya. Seusai foto dan beritanya dimuat, beberapa pengusaha tempat makan menelpon dan berkata ingin menjadi pelanggannya, meskipun dulu mereka menolak tawarannya. Sejak itu, tempe mulai dikenal di Jepang. Sedikit demi sedikit, tempe mulai mendapatkan penggemar di Jepang. Ia bahkan menghubungi salah satu maskapai penerbangan dan menawarkan kerjasama. Ia mengusulkan agar setiap wisatawan yang hendak mengunjungi Indonesia, diberi kesempatan untuk mencicipi makanan khas Indonesia, salah satunya tempe. Dari sana, tempe bukan hanya dikenal di Jepang tapi juga Eropa, Amerika, dan Asia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here