Kisah Abdul Aziz Maulida, Jadi Jutawan melalui Cacing

0
Foto: Tribunnews.com

Abdul Aziz Maulida (41), pria asal Malang ini sukses mengubah cacing yang dianggap menjijikan menjadi komoditas yang menguntungkan. Memulai usaha sebagai peternah belut, siapa sangka, pakan belut yang tak pernah ia hiraukan, rupanya jadi sumber pendapatan utamanya kini. Bahkan, omset per bulan dari hasil berjualannya mencapai 300 juta rupiah, dengan keuntungan 10 persen, yakni 30 juta per bulan.

Kisahnya berawal pada tahun 2010 ketika ia berpikir untuk membudidayakan belut. Belut jadi pilihan usahanya ketika memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan kimia tahun 2010 lalu. Bosan dengan rutinitas dan ingin berkembang jadi alasannya. Selama 1 tahun menganggur, lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), ia bertekad untuk memelihara belut. Dua puluh juta rupiah ia gelontorkan untuk usahanya.

Sayang, belut yang ia rawat sungguh-sungguh ternyata banyak yang mati. Ada banyak faktor yang harus dijaga agar belut bisa berkembang biak dengan baik. Ia pun mencoba beternak sapi. Sayang, usaha keduanya pun kembali gagal. Sapinya banyak juga yang mati meski ia sudah menggandeng peternak lain. Ia berkesimpulan, usahanya memelihara ternak mungkin kurang konsisten dan berkelanjutan.
Pada saat yang sama, ia terus memelihara cacing-cacing yang semula jadi ternak belutnya. Uang yang ia keluarkan hanya 200 ribu rupiah, yakni untuk membeli indukan cacing. Hanya dengan kandang sederhana berukuran 40 x 50 cm dengan 12 tingkat, ia memulai memelihara cacing. Tujuannya bukan membudidayakan cacing, namun jika kelak ia memiliki usaha yang membutuhkan cacing, ia telah memilikinya. Alasannya sederhana, cacing mudah dirawat, makanan pun tak perlu beli. Ia hanya menggunakan sampah dapur yang dihaluskan. Seiring berjalannya waktu, ia pun memahami bahwa cacing memiliki potensi untuk dijadikan usaha.
Pada tahun 2013, ia memutuskan untuk membudidayakan cacing jenis lumbricus rubelus. Ia juga menggandeng warga sekitar rumahnya untuk menjadi mitra kerja. Soal ilmu memelihara cacing ia peroleh sambil jalan saja, sedikit demi sedikit, otodidak, belajar dari satu mulut ke mulut lain, belajar dengan mempraktikkannya sendiri. Ketika panen, ia menjual cacingnya ke peternak ikan dan udang di daerah Banyuwangi hingga Tuban.
Tak disangka, setahun berselang, usahanya terus berkembang hingga ia mendirikan CV Rumah Alam Jaya Organik. Tekadnya untuk membudidayakan cacing semakin didukung dengan keyakinan bahwa cacing bukan hanya bisa dijual tapi juga bagi bagi keseimbangan alam. Cacing akan memakan sampah dan kotoran dari lingkungan sehingga kebersihan lingkungan terjaga. Kotoran cacing pun dapat dijadikan pupuk. Daging cacing pun higienis sehingga dapat dimanfaatkan secara luas, bukan hanya pakan ternak saja.
Selain menjual cacing hidup, ia juga mengolah cacing dalam bentuk jus yang difermentasikan. Cacing cair ini bukan hanya digunakan sebagai pakan tapi juga bahan baku di industri farmasi, pupuk tanaman organik, hingga kosmetik. Harga cacing cair ini juga lebih mahal daripada cacing hidup biasa. Cacing cair ini juga dijual ke berbagai negara, mulai dari Myanmar, Malaysia, India, Nepal, Vietnam, Tiongkok, Bangkok, dan lain-lain. Dalam sebulan, ia harus menyetor cacing sebanyak 60 ton. Permintaan sebanyak itu ia penuhi dengan mengambil dari lahan sendiri, dan mitra sebanyak 200 orang yang ada di desa sekitar rumahnya.
Ia berharap, cacing dapat menjadi salah satu usaha rumahan yang digalakkan. Selain dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, cacing juga dapat berguna bagi lingkungan. Ia berpesan, bagi siapa saja yang ingin menjadi pengusaha, ia harus terus belajar, mampu bekerja sama dan senantiasa membangun jaringan. Selain itu, pengusaha tidak boleh membatasi diri. Dia harus mengenali sebuah peluang usaha, mengembangkannya, dan tak boleh berhenti karena seorang pengusaha tak boleh mandek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here