Dunia Tanpa Batas: Para Milenial Asia Menghadapi Era Disruptif

0

Oleh Faric Priyatama

Ada banyak kata yang digunakan publik terhadap kaum Milenial Asia saat ini. Sebagian publik menyebut para Milenial ini sebagai generasi yang terobsesi dengan diri sendiri, pemberontak, malas, bodoh dan lain sebagainya. Namun, anda tidak bisa menyalahkan sebagian pendapat publik tersebut kepada para Milenial. Para Milenial ini adalah generasi yang memunculkan meme’ internet, Logan Paul, dan yang paling terkenal adalah lahirnya video game fortnite. Jadi, anda bisa percaya bahwa para Milenial Asia bisa menjadi game-changer di berbagai bidang pekerjaan.

“Bumi tempat kita hidup terus berkembang. Penelitian telah menunjukkan bahwa pada tahun 2020, para Milenial merupakan 60% dari total tenaga kerja secara global, dan total kekayaan Milenial diperkirakan akan berlipat ganda mencapai US $ 19 24 triliun pada tahun 2020. Kenyataannya dua-per-tiga dari Milenial tersebut berasal dari Asia. Itu berarti mereka harus menghadapi bahaya pekerjaan yang lebih besar di dunia di era disruptif ini. (Sumber: Goldman Sachs, Deloitte, Maret 2018). 

Kehidupan para Milenial tersebut terus menjadi sorotan publik, dan berbagai survey telah menyoroti berbagai keadaan mereka yang berbeda dari generasi X dan baby boomer, sebagai contoh misalnya, sebuah survey oleh Pew Research Center mengungkapkan bahwa Milenial jauh lebih memungkinkan menjadi independent voter atau pemilih mandiri dalam politik dibandingkan generasi sebelumnya yang lebih tua. Survey lain yang dilakukan oleh Deloitte menemukan fakta bahwa Milenial ingin melakukan bisnis yang berfokus kepada ‘Orang dan Tujuan’. Kemudian banyak pendapat dan studi lain tentang Milenial telah mengamati pola kerja mereka, karena didorong oleh kekhawatiran bahwa Milenial mungkin mengikuti pola karier yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mata dunia telah tertuju pada Milenial tetapi yang paling menarik adalah mengamati perkembangan para Milenial di Asia, terutama para Milenial dari Indonesia, India dan Cina

Milenial Asia bisa memainkan peran sangat besar sebagai konsumen pasar global saat ini, dan dengan alasan yang menarik sebagai berikut; Menurut sebuah laporan yang dilakukan oleh Goldman Sachs, jumlah Milenial Cina sekitar 415 juta, yang lebih banyak daripada populasi pekerja di AS dan Eropa Barat. Sementara angkatan muda Indonesia yang berusia 17 hingga 35 bisa mencapai sekitar 51%, atau sekitar 100 juta. Selanjutnya, negara India juga memiliki 440 juta Milenial yang merupakan 35% dari populasi mereka di negara tersebut.

Sebuah studi terbaru menyebutkan bahwa 84% generasi Milenial telah berbelanja secara online. Ini berarti bahwa para Milenial tersebut berbelanja dengan menggunakan smartphone atau mobilephone mereka, selain berbelanja di toko secara konvensional. Para Milenial tersebut terkenal memiliki stereotip yang kuat terhadap ego mereka yang ingin diistimewakan, karena mereka merasa pantas mendapatkan hak istimewa terhadap keinginan mereka lebih dari orang lain dan para Milenial tersebut bangga akan hal itu. “Menurut sebuah studi dari Universitas Hampshire, terhadap Milenial yang lahir antara tahun 1988 dan 1994 mencetak 25% lebih tinggi dalam masalah yang terkait dengan ego daripada kelompok mereka yang berusia 40-60 tahun, dan para Milenial tersebut lebih mungkin mengembangkan gangguan kepribadian narsis”.Katakanlah para Milinial ini memiliki perasaan untuk mempunyai hak yang spesial. Bagaimana perasaan tersebut kemudian membentuk pola pengeluaran mereka secara sekeluruhan?  Studi oleh Retail in Asia menunjukkan bahwa sebagian besar kaum Milenial Asia masih tinggal bersama orang-tua mereka karena harga rumah dan biaya sewa yang mahal. Faktanya lebih dari 65% Milenial Asia memilih tinggal di rumah karena alasan norma sosial dan budaya, dibanding 49% kelompok Milenial dari wilayah lain. Selanjutnya, generasi Milenial Asia tersebut bisa menghabiskan 10% lebih banyak anggaran untuk makanan yang dibeli di luar rumah mereka dibanding generasi sebelumnya. Kelompok Milenial Asia juga tertarik pada makanan sehat dan berkualitas tinggi, dan mereka lebih suka merasa ‘fotogenik’. Hampir seperempat dari semua traveler atau pelancong dilakukan generasi Milenial, dan mereka bisa menghabiskan sekitar US$ 200 miliar per tahunnya untuk melakukan perjalanan.

Ada beberapa konsekuensi negatif bagi para Milenial saat mereka ingin memasuki dunia kerja. Penelitian menunjukkan bahwa keinginan untuk selalu hak mereka terpenuhi menyebabkan kekecewaan kronis. Mereka merasa layak menerima hal-hal tertentu, apakah berwujud atau tidak berwujud, namun mereka merasa tidak pernah mendapatkannya, sehingga mereka bisa berada pada situasi dengan harapan yang tidak terpenuhi. Mereka kemudian bisa merasa frustrasi, tidak bahagia, dan secara keseluruhan merasa kecewa dengan kehidupan mereka, dan mengatasi hal ini dengan menyalahkan orang lain daripada diri mereka sendiri untuk terus merasa bahwa itu adalah lingkungan yang bertanggung jawab atas kekecewaan mereka. Terlepas dari apakah Milenial secara pribadi merasakan hak mereka, penting untuk dicatat bagaimana rasa berhak dapat membentuk tempat kerja mereka. Bagaimanapun juga, para Milenial akan bertemu dengan generasi lain dalam bisnis mereka supaya tempat kerja mereka tetap berjalan lancer.  Percaya atau tidak, sebenarnya ada beberapa manfaat untuk merasakan berhak atas sesuatu kepentingan. Para Milenial berhak merasakan dorongan yang lebih kuat untuk berprestasi daripada kebanyakan generasi lain. Jika mereka merasa layak menjadi wiraniaga top, atau siswa terbaik di kelas, mereka akan cenderung bekerja lebih keras untuk mewujudkan keinginan lebih tersebut. Untuk merasakan tujuan, Milenial yakin bahwa mereka sendiri istimewa.

Milenial bisa melihat sudut pandang yang lebih besar dengan memanfaatkan teknologi. Ini berarti kemampuan mereka untuk memberi nilai tambah yang berarti dari mana saja dan kapan saja. Para Milenial merasa diperdayakan dengan menginginkan lebih banyak dari kehidupan mereka, dan mereka akan mendapatkan banyak dari apa yang mereka inginkan. Itu tidak berarti hidup mereka lebih baik atau lebih buruk, hanya berarti hidup mereka sekarang berbeda. Dunia tumbuh dan berkembang, jadi mereka tidak menerima konsep lalu duduk di meja tidak melakukan apapun selama delapn hingga sepuluh jam sehari berusaha terlihat sibuk untuk bos mereka di kantor.

Milenial tidak terang-teranggan berpikir bahwa dunia tergantung pada mereka. Mereka tidak egois dan tidak selalu merasa istimewa. Para Milenial menyukai pekerjaan mereka, dan ingin lebih banyak untuk kehidupan mereka serta membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Para Milenial tidak hanya ingin bekerja, namun mereka ingin bermimpi, menjadi makmur serta yang lebih penting adalah mereka ingin mengembangkan hidup mereka.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here