Delia Murwihartini, Pantang Menyerah Membangun “Dowa”

0
Foto: indahariani.blogspot.sg

 

Tas rajut home made adalah salah satu jenis tas yang banyak ditemui di Indonesia. Tas rajut memang menimbulkan kesan klasik dan tradisional. Namun, tas rajut yang bernuansa tradisional, ternyata bisa dipadukan dengan nuansa modern dan berhasil merebut hati penikmat fashion dunia. Delia Murwihartini adalah aktor di balik suksesnya tas Dowa di Indonesia dan vendor The Sak di Amerika, The Read’s di Eropa, dan. Berbeda dengan pengusaha lain yang mengawali usaha di Indonesia kemudian menebarkan sayap ke mancanegara, Dowa baru dibangun setelah The Read’s dan The Sak sukses.

Kisah kesuksesan Dolly, sapaan Delia, berawal tahun 1990-an. Gadis muda yang baru saja menamatkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada jurusan Komunikasi ini tak tertarik untuk bekerja. Ia melihat temannya mencari pekerja di perusahaan meskipun perusahaan itu tidak akan memberikan gaji yang sangat tinggi. Ia berpikir, mungkin ia memang harus membangun usaha sendiri dan mempekerjakan orang lain. Tertarik dengan fashion, ia tertarik untuk membangun bisnis fashion, khususnya tas rajut. Bekerja pada bidang yang ia sukai, ia yakini sebagai tahap awal untuk memperoleh kesuksesan.

Ia memulai usahanya dengan menjual berbagai jenis tas yang dibeli dari pengrajin tas Yogyakarta. Dari penginapan ke penginapan, ia menjajakan tas rajutnya. Saat itu, banyak turis luar negeri yang suka tas Yogyakarta. Dalam rangka meningkatkan daya saingnya, ia meminta produsen tas untuk melakukan teknik jahit yang unik dan melakukan penggelapan untuk menghasilkan efek warna kulit. Strateginya ternyata sukses. Bahkan, ada seorang turis yang memesan ratusan tas darinya. Dari sana, ia berkeyakinan jika usahanya bisa sukses di luar negeri.

Bermodalkan keyakinan, ia pergi ke fashion week di Eropa dan Amerika Serikat. Hal tersebut adalah salah satu investasinya dalam dunia fashion. Menurut Dolly, memang semua orang bisa mendapatkan informasi dari internet namun datang langsung ke sana membuatnya dapat merasakan jiwa fashion Eropa dan Amerika. Tanpa mengalaminya sendiri, menurutnya, mustahil ia bisa membuat desain yang tetap up to date. Padahal, dalam industri fashion, pengetahuan trend mutlak diperlukan.Dia mengaku, mayoritas fashionnya mengacu pada fashion London, Milan, Paris, dan New York.

Dari fashion week yang ia kunjungi, ia bertemu dengan calon pembeli dan pengusaha tas lain. Dari sana, ia bisa memperluas pengetahuan dan jaringan. Dari sana, ia bahkan bisa membuat nama besar seperti Francesco Biasia dan Mazzini untuk membeli tas darinya.

Ia fokus mengembangkan bisnis sesuai dengan selera para calon pelanggannya. Di Eropa, ia fokus membuat tas rajut nilon. Bersama dengan rekan bisnisnya di Italia, ia memprediksi tas rajut akan menjadi tren jika mereka bisa memproduksi tas itu sebagus tas kulit. Delia pun memutar otak. Tantangan pertamanya adalah mencari bahan yang cocok sebab nilon yang ada di pasaran tidak sesuai dengan kebutuhannya. Ia pun memesan secara khusus di pabrik benang. Selain itu, dia juga harus bisa konsisten dengan kualitasnya di mana hal itu cukup dilakukan. Saat ini, ia semakin memperketat standar kualitasnya.

Dari sana, kesuksesan mulai menghampiri. Namanya mulai dikenal di Eropa sebagai vendor The Sak di Amerika dan The Raids di Eropa. Ia berkomitmen untuk senantiasa menjaga kualitas produk dan reputasinya. Ia menciptakan mereknya sendiri, Dowa, yang dibangun di Indonesia khususnya Yogyakarta. Kata Dowa berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti doa, yang merupakan harapan agar doa bisa membawanya terus sukses baik di dalam kehidupan maupun berbisnis.

Dalam membangun bisnisnya, ia mulai dengan mendaftarkan hak paten, dan senantiasa menjaga agar produknya unik, eksklusif dan mudah dikenali. Dia terus berusaha membuat produknya up to date dengan mengeluarkan koleksi baru setiap 3 atau 4 bulan sekali dengan berbagai warna yang cantik. Dia juga terus mengunjungi kota-kota fashion untuk mendukung itu semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here