Beda Karier, Beda Penyakit

0
Foto: Pixabay
Foto: Pixabay

Setiap manusia pasti merasakan sakit. Namun, semua memang tergantung bagaimana kita menjaga pola makan dan daya tahan tubuh. Pasalnya, penyakit bagaikan jelangkung yang terkadang datang dan pergi mendadak. Begitu juga dengan berbagai penyakit yang mungkin efek dari pekerjaan kita.

Guru

Profesi guru yang masih menggunakan kapur tulis akan rentan terhadap penyakit pernapasan. Misalnya, asma, bronchitis, atau sesak napas. Namun, oleh karena zaman sudah berubah dan saat ini guru menggunakan spidol untuk mengajar, penyakit amandel atau radang tenggorokan akibat sering bersuara kencang sering dialami guru.

Editor

Wasir atau ambeien sangat rentan diderita oleh orang yang berprofesi sebagai editor, baik editor buku, media, atau video. Soalnya, nih, jika sudah keasyikan menyunting atau dikejar deadline, editor akan lupa untuk berdiri sejenak dan duduk seharian. Belum lagi kebanyakan editor sering melupakan makan siang dan minum air putih yang bikin pencernaan kurang lancar.

Dokter gigi

Dokter juga manusia. Begitu juga dengan dokter gigi. Dokter gigi bekerja memeriksa gigi pasien dalam keadaan setengah berdiri dan membungkuk atau menunduk. Tentunya, penyakit yang sering diderita oleh dokter gigi adalah sakit punggung yang dapat mengubah postur tubuh.

Perawat

Bekerja di bidang kesehatan bukan berarti bebas dari penyakit. Perawat biasanya rentan dengan segala penyakit yang ada di rumah sakit. Soalnya, dibandingkan dengan dokter, perawat lebih sering berinteraksi dengan pasien yang beragam riwayat penyakitnya. Namun, kebanyakan, perawat lebih sering terkena penyakit kulit.

Penata rambut

Profesi ini membutuhkan lebih banyak berdiri saat memegang atau menggunting rambut pelanggan. Namun, jika penata rambutnya sudah professional, bukan nggak mungkin lagi akan menghadapi asma juga akibat permintaan menata rambut public figure yang banyak.

Pengacara

Profesi pengacara sangat rentan terkena penyakit jantung. Bagaimana nggak? Biasanya mereka sering menghadapi permintaan klien untuk memecahkan kasus yang nggak gampang. Belum lagi kalau kita adalah pengacara di bidang politik, bukan nggak mungkin lagi kita akan sering diteror yang bikin stres oleh orang yang nggak menyukai kita, baik telepon gelap atau surat kaleng.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here